untuk aku,
zaman marahkan tuhan,
merajuk, bila tidak diberi yang mahunya aku
sudah lama berakhir.
bukan lagi waktu untuk meratib hiba cinta berbalas benci.
bukan lagi harus sembunyi wajah, palingkan bahu bila hati pecah seribu.
cerita.
di hadapan tuhan.
dan tuhan tidaklah tuli.
maka dialah yang paling tahu bisik hati kita.
dengar.
dan dalam diam malam
dia berbicara
lewat surat mukzijat.
maka dialah yang paling memegang jiwa kita.
tidak ada surutnya ombak pasang dalam hidup ini.
mungkin bezanya pada letak pasrah.
tawakkal.
redha.
menerima.
- melepaskan.
biarkan aku rebahan di pangkuan tuhan
kerana jauhnya hati sudah berlabuh pulang.
dan tuhan itu tidaklah tuli.
09 November 2014
10 October 2014
26 May 2014
02 January 2014
Dansen
siapa yang menyelimutimu
tidur di sunyi gelap
dan mengucupimu
hening di awal mentari
yang menggenggam jemarimu
di sela bayu ancol
dan membawa lari hatimu
ke dataran monas
tak perlu ke bundaran HI
untuk melihat kembang api
di malam tahun baru
karena
di matamu sinarnya lebih terang
-katanya
yang memelukmu
layaknya anak kecil ingin dimanja
dan mendakapimu
dalam semilir hujan
(agar kau tidak kedinginan)
dan siapa pula yang mengusap
ubun-ubunmu dengan
matanya yang bergenang sayu
sebaik kau dihantar
di depan rumahmu
Dansen,
cinta djakarta-ku,
hidup ini tiba-tiba
telah menjadi singkat
buat kita berdua.
tidur di sunyi gelap
dan mengucupimu
hening di awal mentari
yang menggenggam jemarimu
di sela bayu ancol
dan membawa lari hatimu
ke dataran monas
tak perlu ke bundaran HI
untuk melihat kembang api
di malam tahun baru
karena
di matamu sinarnya lebih terang
-katanya
yang memelukmu
layaknya anak kecil ingin dimanja
dan mendakapimu
dalam semilir hujan
(agar kau tidak kedinginan)
dan siapa pula yang mengusap
ubun-ubunmu dengan
matanya yang bergenang sayu
sebaik kau dihantar
di depan rumahmu
Dansen,
cinta djakarta-ku,
hidup ini tiba-tiba
telah menjadi singkat
buat kita berdua.
Subscribe to:
Posts (Atom)