09 January 2013

bagai span

" tu la mung,hati bagai span" kata angah.kami gelak bersama,walau terasa kelat di pangkal ketawa.
kemudian, aku tanya kenapa.
kenapa span ?

"sebab terlalu mudah absorb perasaan orang lain dalam hati mung.terlalu mudah bagi ruang dan peluang"

maka kalau bukan span,apa aku harus jadi ? 
batu ?
selama 21 tahun hidup keras hati,bahkan lebih keras dari tembok,apa yang aku peroleh ?

-dibuang dan di campak merata.

ini bukan soal mahu jadi span,atau batu, atau apa.
tapi ini tentang menerima.
menerima yang selalunya,hidup tak persis mimpi-mimpi yang kau ciptakan.dan tak jarang kau harus mengalahkan harapan sendiri demi hal-hal lain yang lebih utama.
dan,yang lebih pasti dari itu,untuk aku - ego tak pernah memberi bahagia.sekadar untuk ditayang-tayang di khalayak.tapi kemudiannya,kau menangis sendiri juga.

dan dengan 'hati bagai span' ini juga sebetulnya tak dapat menjanjikan bahagia untuk aku pun.cumanya ; 
moga-moga dapat menumpang gembiranya mereka.

harapnya.